Rabu, 08 Januari 2014
Minggu, 17 Februari 2013
MASA PRAPASKAH: MASA PERTUMBUHAN JIWA KITA (Erick Sila)
I. Pengantar
Tahun Liturgi Kristen merupakan pengungkapan suatu perjalanan dalam perayaan-perayaan Liturgi berdasarkan peredaran waktu selama satu tahun. Dalam Tahun Liturgi Kristen, kita mengenal yang namanya masa prapaskah. Masa prapaskah adalah suatu masa yang amat penting, di mana semua umat Kristen diberi kesempatan untuk memperbaharui dan mengubah jiwanya yang kering. Masa prapaskah juga merupakan masa persiapan paskah.
Bagi segenap umat Kristen, terutama bagi Gereja masa prapaskah merupakan masa persiapan untuk merayakan misteri penebusan Kristus yang berpuncak pada sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, masa ini adalah masa persiapan dan pertumbuhan bagi jiwa kita, terutama memperbaharui komitmen pribadi di hadapat Allah. Masa prapaskah akan dibahas secara lebih mendalam pada bagian berikut.
II. Mengenal Masa Prapaskah
A. Asal-usul Masa Prapaskah
Kapan dimulainya masa prapaskah sebagai perayaan resmi Gereja tidak diketahui dengan jelas, tetapi masa prapaskah merupakan masa persiapan bagi segenap umat Kristen untuk menyambut masa paskah. Dalam Liber Sacramentum III memuat bahwa sejak abad ke-2 telah dimulai suatu masa pertobatan dengan berpantang dan berpuasa sebagai persiapan menyongsong paskah. Tentang hal ini Girolamo memberikan kesaksia dalam suratnya kepada Marcella (384) bahwa keberadaan masa puasa adalah puasa. Sejak awal abad ke-4 kebiasaan ini telah tersebar luas di Gereja-gereja Timur dan pada akhir abad ke-4 di Gereja-gereja Barat.
Kitab Suci mengajarkan kepada kita untuk melaksanakan puasa selama 40 hari. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol perayaan karya keselamatan Allah. Konsili Nicea (325) menyebut masa persiapan selama 40 hari tersebut dengan nama Quadragesima Paschae.
Angka “40” memiliki makna religius yang selalu dihubungkan dengan masa persiapan sebelum menerima atau melaksanakan perintah Allah. Sebelum menerima sepuluh perintah Allah, Musa berpuasa selama 40 hari 40 malam di gunung Sinai (Kel 34:28); Elia berjalan selama 40 hari 40 malam menuju ke gunung Allah, gunung Horeb (1Raj 19:8); penduduk kota Ninive berpuasa selama 40 hari (Yun 3:1-10) dan Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum Ia memulai karya pewartaan-Nya (Mat 4: 2; Luk 4:2).
Dalam perkembangan Gereja selanjutnya yakni sejak abad ke-5, masa prapaskah sebagai masa persiapan bagi para calon baptis. Pada akhir abad ke-11, doa-doa yang panjang, ibadat sabda mulai hilang dan digantikan dengan penaburan abu pada hari rabu abu sebelum Minggi I masa prapaskah.
B. Teologi dan Spiritualitas Masa Prapaskah
Masa prapaskah merupakan suatu masa khusus yang dipersembahkan untuk menghidupkan kembali peran serta Gereja dalam misteri penebusan Kristus. Dalam surat kepada orang Roma diajarkan bahwa, “Jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Masa prapaskah hendaknya dipandang bukan sebagai rutinitas dalam Gereja, melainkan sebagai suatu masa pertobatan. Maka tekanan masa prapaskah adalah pertobatan dan pengudusan diri di dalam Tuhan. Masa prapaskah bukan sekadar sebuah bentuk asekese yang hanya ikut ramai, malainkan terutama pertobatan hati sungguh-sungguh kepada Allah.
Pertobatan adalah bentuk kerendahan hati untuk ikut ambil bagian di dalam mis teri paskah Kristus untuk mewujudkan misi karya keselamatan Allah. Gereja menyadari bahwa hanya rahmat yang dianugerahkan Allah kepada umat-Nya yang dengan rendah hati mau bertobat. Pertobatan merupakan tindakkan liturgis di mana Kristus sendiri berkarya menguduskan Gereja.
Melalui pebaptisan semua orang dipersatukan dan dikuduskan dalam nama-Nya dan dengan pebaptisan juga setiap orang diajak untuk senantiasa menghayati imannya secara konsekuen melalui pertobatan terus-menerus. Atas rahmat baptisan itu seseorang terdorong untuk selalu melakukan pertobatan secara terus-menerus.
Dalam masa prapaskah semua umat beriman diajak untuk membuka diri kepada Allah yang mau menguduskan dan membebaskannya dari dosa. Masa ini adalah masa pertobatan menuju sebuah “kelahiran” baru di dalam Allah. Pertobatan bukanlah sebuah konsep melainkan suatu tindakkan nyata.
Tindakkan-tindakkan sebagai sebuah karya nyata dapat diungkapkan lewat hal-hal yang membangun iman, tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, rajin berdoa, berpantang dan berpuasa dan meningkatkan cinta kasih kepada sesama melalui karya amal. Dengan demikian, pertobatan tidak hanya secara personal tetapi secara komunal dalam hubungan dengan orang lain.
C. Liturgi Masa Prapaskah
Masa prapaskah merupakan masa persiapan bagi seluruh umat Kristiani, bersama dengan para calon baptis untuk menyambut paskah. Masa ini adalah masa penyegaran pembaptisan. Inti dari pembaptisan adalah mendengarkan dan merenungkan Injil dengan tekun serta mengalami mati dan bangkit.
Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa masa prapaskah berciri ganda: pertama, masa prapaskah sebagai masa persiapan sekaligus peringatan akan pembaptisan kita. Yang kedua, masa prapaskah sebagai masa pertobatan, mempersiapkan diri untuk merayakan misteri paskah melalui permenungan secara lebih tekun terhadap Sabda Allah. Selain itu, umat juga harus meningkatkan doa-doa pribadi maupun bersama dalam keluarga dan lingkungannya. Sikap ini harus berpangkal pada kesatuan dengan misteri wafat dan kebangkitan Kristus sebagai inti iman dan pertobatan sebagai kesetiaan iman. Sikap ini ditampakkan dalam seluruh perayaan liturgi masa prapaskah.
Liturgi masa prapaskah dimulai dan dibuka denga Rabu Abu dan berakhir pada saat menjelang Kamis Putih. Masa prapaskah memiliki rumusan doa liturgis yang sangat kaya. Sejak abad ke-8 Gereja sudah memiliki suatu struktur bacaan misa yang teratur terutama bagi para calon baptis. Kebiasaan ini akhirnya berkembang dan kemudian disempurnakan oleh Konsili Vatikan II menjadi tiga golongan: Bacaan Tahun A: Berbicara tentang tahap-tahap misteri pembaptisan; Bacaan Tahun B: Lebih bercorak Kristosentris; dan Bacaan Tahun C: Lebih menekankan pertobatan. Sedangkan untuk bacaan-bacaan dari Kitab Suci Perjanjian Lama dipilih kisah-kisah mengenai sejarah keselamatan.
III. Penutup
Masa prapaskah merupakan masa istimewa bagi segenap umat Kristen untuk bertobat, bermatiraga, berpuasa, berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci serta melakukan karya amal sebagai persiapan menyongsong paskah. Dalam masa prapaskah ini, semua umat Kristen deberikesempatan untuk membaharui diri sebagai umat yang beriman kepada Kristus dengan bertobat.
Untuk itu, setiap umat Kristen diajak untuk memanfaatkan waktu ini untuk mengembangkan hidup rohaninya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya rajin berdoa, baik pribadi maupun bersama di lingkungan maupu di tengah keluarga masing-masing. Menerima sakramen tobat, rajin mengikuti perayaan Ekaristi, serta berpantang dan berpuasa.
Masa prapaskah merupakan sarana untuk semakin menyelami dan menghayati misteri penebusan Kristus yang menderita, wafat dan bangkit demi dosa manusia. Orang yang percaya kepada Allah yang menyelamatkan ini akan selalu rajin berusaha. Karena dia yakin dan percaya akan rencana baik dari Allah. Dengan demikian, kita mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan sukacita misteri keselamatan kita dengan hati yang bersih.
SUMBER:
Johanis Sembiring, Tahun Liturgi (Pematangsiantar: [tanpa penerbit], 2008), hlm. 39.
Bosco da Cunha, Merayakan Karya Penyelamatan: Dalam Kerangka Tahun Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, ), hlm. 68.
J. Sembiring, Tahun …, hlm. 39.
B. da Cunha, Merayakan Karya …, hlm. 68.
B. da Cunha, Merayakan Karya …, hlm. 70.
B. da Cunha, Merayakan Karya …, hlm. 71.
Gabe Huck, Liturgi yang Agung dan Menawan: Pedoman Menyiapkan dan Melaksanakan Liturgi (judul asli: Liturgy Style and Grace), diterjemahkan oleh Komisi Liturgi KWI (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 196.
Konsili Vatikan II, “Konstitusi tentang Liturgi Suci” (SC), dalam dokumen Konsili Vatiakn II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990), no. 109.
B. da Cunha, Merayakan Karya …, hlm. 69.
B. da Cunha, Merayakan Karya …, hlm. 69.
Selasa, 18 September 2012
SAHABAT MENJADI CINTA (Oleh: Erick M. Sila)
Di keheningan malam nan sepi bertabur bintang, di sebuah bilik sempit dan sederhana penuh kedamaian, sang penyair tengah memainkan penanya di atas sehelai kertas. Kata demi kata dirangkainya menjadi satu kesatuan yang utuh penuh makna. Menggoreskan pikiran-pikiran cerdas nan kratif. Serasa menyesal seumur hidup bila ditinggalkan, namun bila dinikmati terasah indah di hati dan permai di kalbu.
Sang penyair muda belum beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mau bekerja setengah hati. Lagi dan lagi, kalimat demi kalimat dirangkainya dengan kata-kata pilihan. Di hadapannya dibentangkannya ilusi dan pengalaman sebagai pedomannya. Ia tentu tidak ingin bernyanyi semerdu putri-putri kayangan, jika itu tidak ia dendangkan dengan cinta.
Tampaknya sang penyair muda tengah berpikir keras. Dengan menggunakan sedikit imajinasi, ia mencoba menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman hidupnya yang telah lama “terkubur”. Setelah beberapa menit menerawang jauh, ia kembali menulis lagi.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.35 WIB. Pikirannya masih menerawang jauh untuk menghadirkannya secara kratif dalam selembar kertas. Saat itu, George teringat akan sahabat kecilnya, Echy semasa ia masih kanak-kanak dulu. Mereka sangat akrab bahkan tak dapat terpisahkan lagi. Yang satu akan menangis kepada ibunya jika sehari saja ia tidak melihat dan bermain bersama sahabatnya.
Setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Tempat bermain yang paling disenangi oleh mereka berdua adalah di pantai, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Membuat gundukan menyerupai gunung, jembatan dan rumah-rumahan dengan pasir adalah jenis permainan kesukaan mereka. Terkadang mereka lupa makan karena terlalu keasyikan bermain. Di tengah hamparan pasir putih nan luas dan di bawa rimbunan pohon lontar yang sejuk itulah mereka menghabiskan masa kanak-kanak mereka.
Bulan berlalu tahun pun berganti. Usia mereka pun semakin hari semakin bertambah. Itu berarti bahwa mereka harus meninggalkan masa kanak-kanaknya dan memasuki masa sekolah. Ketika genap berusia 5 tahun, mereka berdua akhirnya didaftarkan bersama oleh kedua orang tua mereka pada sebuah Sekolah Dasar Negeri terdekat. Setiap pagi dan siang, mereka harus diantar dan dijemput oleh orang tua mereka. Akan tetapi, ketika mereka sudah di bangku kelas II SD, mereka sudah bisa pergi dan pulang tanpa dijemput. Mereka tampak senang dan bahagia dikala bersama.
Enam tahun telah berlalu, mereka berdua akhirnya menyelesaikan bangku SD dengan baik. Mereka lulus dengan hasil yang membanggakan. Orang tua mereka juga ikut senang dan bahagia melihat kesuksesan keduanya. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk menanggalkan seragam putih merah dang siap mengenakan seragam putih biru. Mereka juga harus siap dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, teman baru, suasana baru dan sebagainya. Akhirnya, masa SMP pun mereka lalui dengan mulus dan mantap tanpa tantangan yang berarti. Semuanya berjalan dengan lancar termasuk persahabatan di antara mereka.
Hubungan persahabatan antara George dan Echy semakin hari semakin akrab ketika mereka sudah di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ke sekolah, perpustakaan, ke danau Telaga Biru dan ke mall pun mereka selalu bersama.
Suatu saat ketika mereka sedang menikmati minuman segar dan udara sejuk di sebuah sudut taman rekreasi, entah mengapa mata mereka tiba-tiba saling berpapasan. Sebuah tatapan yang sungguh berbeda dari yang biasanya. Suasana yang ramai penuh canda, tiba-tiba berubah menjadi bisu. Kebisuan itu terjadi oleh karena satu tatapan yang tak terhindarkan itu. “Eh… habiskan minumannya bang, sudah jam 16.45 ini”. Kata Echy menyadarkan George dari lamunannya. “Oh… iya dik. Jawab George dengan nada sedikit gugup.
Entah mengapa, George tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Apakah aku jatuh cinta kepada Echy yang telah aku anggap sebagai adikku sendiri? Apakah Echy akan marah jika aku mengungkapkan perasaan ini kepadanya? Ataukah ia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat ini? Tanya Gerorge dalam hatinya. “Aku yakin ada benih-benih cinta itu diantara hatiku dan hatimu Echy. Kita tidak bisa membohongi diri kita sendiri. Itu tampak dari kejadian yang baru saja terjadi. Suatu tatapan yang penuh makna. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk mengatakannya”. Pikir George meyakinkan dirinya.
Hari berikutnya setelah pulang sekolah, George mengajak Echy untuk menemuinya di bangku taman di bawah pohon basar di pinggir danau Telaga Biru. Tempat itu adalah tempat penuh kenangan. George dan Echy biasanya ke sini tatkala satu di antara mereka lagi sedih, ataupun gembira ketika salah satu di antara mereka memdapat kado dari orang tuanya. Di tempat inilah mereka saling berbagi, baik suka maupun duka. Di tempat ini jugalah George meminta Echy untuk menemuainya jam 15.00 WIB nanti sore.
Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya, jam yang telah disepakati bersama tinggal beberapa menit lagi. Echy buru-buru karena ia tak mau mengecewakan George. Namun rupanya George belum tiba di taman itu ketika Echy tiba. George muncul setelah Echy menunggu hampir sepuluh menit.
“Echy…”! seru George begitu melihat Echy yang glisah mencari-cari sesuatu. Echy berpaling ke arah datangnya suara. Echy tersenyum ketika melihat George datang. “Sudah lama menunggu?” tanya George. “Ah, Tidak. Setelah mengerjakan PR aku langsung kemari. Aku takut kamu kelamaan menunggu aku”. “nyatanya, justru kamu yang malah menunggu aku” sahut George sambil tersenyum. “ah, tidak apa-apa kok” balas Echy.
George mengambil tempat duduk tepat di samping Echy. Memang bangku yang yang tesedia hanya untuk dua orang. Di bawah pohon besar yang rindang dan pemandangan alam di sekitar danau yang indah menjadikan suasana semakin akrab. Keduanya pun ngobrol diselingi canda Echy yang penuh dengan daya pikat tersendiri.
“Echy…”. George memecah kesunyian di antara mereka.
“Ya?”
“Aku aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Untuk itulah aku mengajakmu ke sini”.
“Tentang apa?”
“Tapi aku takut kamu marah padaku, aku tidak mau persahabatan yang telah bertahun- tahun kita bina bersama menjadi rusak oleh karena satu hal ini”.
“Tentang apa Geoge, aku nggak marah kok…”. Kata Echy meyakinkan hati George.
“Tapi kamu harus janji padaku. Kamu harus janji bahwa kamu tidak akan marah jika aku mengatakannya kepadamu”.
“Ok… George, aku janji. Pohon besar dan danau Telaga Biru inilah yang menjadi saksinya”.
“Aku mencintaimu Echy”. Ungkap George dengan suara agak serak.
“Kamu serius…?” tanya Echy dengan suara sedikit gemetar.
“Ya…, aku serius. Aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi sahabat dan milikku selamanya. Aku tidak mau kamu akhirnya menjadi milik orang lain. Kamu mau kan…???” tanya George.
“Rian, sesungguhya aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Tetapi tidak mungkin aku yang mendahuluinya. Aku sadar bahwa kamu bahkan telah menganggapku sebagai adik kandungmu sendiri. Tetapi, aku tidak bisa menahan rasa ini. Aku ingin hubungan kita menjadi jelas seperti apa yang kamu inginkan saat ini. Apa yang menjadi inginmu adalah inginku juga, dan apa yang menjadi harapanmu, itu juga harapanku. Aku juga mencintaimu George”.
“Aku benar-benar merasa bahagia saat ini”. Kata George kepada Echy.
“Kenapa?”
“Karena akhiranya aku benar-benar mendapatkan bintang yang selama ini ku jaga”.
“Aku juga…”
“Kenapa..?”
“Karena akhirnya aku pun seutuhnya menemukan matahari kehidupan yang selama ini menyinariku. Yang jelas, selama bertahun-tahun kita bersama, tidak sesaat pun aku melupakanmu”. “Aku juga…”. Balas George dengan perasaan senang. Akhirnya persahabatan yang telah bertahun-tahun dibina oleh George dan Echy, dimeteraikan di atas hamparan danau Telaga Biru nan luas membentang. Danau Telaga Biru menjadi saksi bisu kisah cinta ini.
Jam Backer tiba-tiba berdering. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Kisah cinta dan persahabatan yang tidak akan pernah terlupakan itu akhirnya harus berakhir di sini. Sang penyair muda akhirnya menutup kisahnya dengan rasa puas. Terima kasih sahabat, terima kasih cinta. (E76).
Jumat, 07 September 2012
WAKTU TELAH MENJAWABNYA : Oleh: Erick M. Sila
Entah mengapa, malam itu aku ingin sekali mengabadikan sebuah kisah CINTA yang terjadi 8 tahun yang lalu. Sebelum aku melanjutkan cerita ini, ijinkan aku untuk mengisakannya atas nama kejujuran dan ketulusan. Kisah ini adalah sebuah ilusi di balik fakta. Aku yakin kisah ini akan menyentuh hati siapa saja yang membacanya. Apalagi kisah ini persis sama dengan pengalaman CINTAnya. Kecuali ia benar-benar tidak mempunyai hati lagi. Kisah ini bukanlah pelajaran tentang filsafat CINTA. Tetapi apa boleh buat. Itulah konsekuensinya bila seorang filsuf muda yang bercerita. Dalam kisah ini, aku akan mengajak kita semua untuk bermain dalam satu kata yaitu: CINTA.
Kata filsuf: “Bermailah dalam permainan tetapi janganlah bermain-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidak sungguhannya. Sehingga permainan yang dipersungguh, tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan Eros, tetapi janganlah mau dipermainkan Eros. Mainlah dengan Agon, tetapi janganlah mau dipermainkan Agon. Tetapi tentang Agape, janganlah main-main! Bermainlah dengan sungguh-sungguh. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan-permainan. Bermainlah untuk bahagia, tetapi janganlah mempermainkan bahagia”. Demikian juga dengan CINTA.
KIsahnya demikian: Pada suatu ketika, aku tidak tahu entah mengapa kami harus bertemu. Dalam pertemuan yang singkat itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Setiap saat, aku ingin sekali melihat senyumannya yang manis dan tatapan matanya yang teduh. Aku merasakan getaran ini semakin hebat dalam diriku. Apakah aku jatuh CINTA? Mungkin. Saat itu aku merasakan bahwa aku telah menemukan diriku yang sebenarnya di dalam dirinya. Jujur, aku tidak bisa menghindari gejolak CINTA ini. Benar kata Alexander Smith: “CINTA adalah menemukan diri sendiri dalam diri orang lain, dan merasa bahagia dengan penemuan itu”. Selama seminggu kami bersama, namun aku belum berani mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku bukanlah seorang pengecut, tetapi saan ini waktu belum mengijinkannya. Akhirnya aku baru mengungkapkannya ketika ia sudah jauh. Saat itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku walapun harus ditolak sekalipun. Apapun keputusannya, aku sudah siap menerimannya. Bagiku, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Benar juga kata Mark Twain: “Keberanian bukan berarti tidak mempunyai rasa takut, melainkan berani bertindak walau merasah takut”. Salahkah jika aku mencoba? Tentu tidak. Demikianlah aku menguatkan hatiku saat memulai kisah CINTA ini. Akhirnya usaha tidak sia-sia. Iapun menerima CINTAku. Hari berlalu, tahunpun berganti. Beriring dengan berlalunya waktu, banyak juga pengalaman bahagia, sedih, marah, kecewa dan sakit hati telah kami lalui bersama. Walaupun demikian, CINTA itu tetap tegar bagaikan batu karang di tengan samudera.
Dalam menjalin sebuah persahabatan, aku berpegang pada satu prinsip bahwa aku menCINTAi karena CINTA, aku CINTA agar menCINTAi. CINTA itu dengan sendirinya mencukupi, CINTA sendiri menyenangkan dan itu dengan sendirinya. CINTA itu bebas, bukan karena terpaksa. Mereka tahu bahwa aku yang menCINTAi dia, menjadi bagian dari CINTA dia juga. Jika demikian adanya CINTA, maka indahlah CINTA itu. CINTA adalah sebuah misteri. Tidak seorangpun yang dapat mendefinisikan CINTA itu secara pasti yang dapat merangkum semuanya. Setiap orang akan mendefinisikan CINTA itu berdasarkan pengalaman pribadinya. Ketika orang merasakan bahagia, ia akan berkata: CINTA itu indah. Tetapi, jika ia terluka karena CINTA, ia akan mengatakan: CINTA itu menyakitkan. CINTA ibarat harumnya bunga mawar. Jika kita disuruh mencium sekuntum mawar segar, kita tahu dengan pasti bagaimana harumnya itu. Tetapi akan menjadi sulit apabila kita disuruh untuk mendefinisikan harumya bunga mawar itu dalam satu kalimat. Sulit bukan? Demikian juga dengan CINTA.
Akupun tidak mengerti sepenuhnya tentang CINTA. Yang aku tahu dengan jelas hanyalah bahwa aku akan merasa kangen jika ia jauh dariku; aku akan merasa sakit hati jika ia menduakan CINTAku. Hanya itu saja yang aku mengerti tentang CINTA. Ya, kurang lebih satu tahun kami menjalin hubungan ini. Akhirnya, badai dasyat itupun datang. Badai itu adalah jarak dan waktu. Memang benar kata orang “CINTA itu tidak akan bertahan apabila dipisahkan oleh jarak dan waktu”. Sekokoh apapun batu karang, jika dihempas badai terus-menerus, sedikit demi sedikit akan terkikis dan pada akhirnya akan hilang. Begitu juga dengan CINTA. Sekokoh apapun CINTA itu pasti akan runtuh. Tetapi CINTA berbeda dengan batu karang. CINTA bisa dipertahankan, walaupun harus merasah sakit; menCINTAi hingga terluka. Sebab kata SANG CINTA: “Air yang dasyat tidak dapat memadamkan CINTA dan sungai-sungai tidak dapat menghanyutkannya". Namun kenyataannya berbeda dengan pengalamanku ini. Badai itu terus datang tiada hentinya. Akhirnya di penghujung bulan Agustus dalam tahun itu, badai dasyat itu tak dapat ku elakan lagi. Ia telah perpaling kepada CINTA yang lain. Saat ini aku hanya ingin mengatakan kepadanya “Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu, kalau memang itu membuatmu bahagia!”. Aku yakin itulah yang terbaik bagimu. Kata Khalil Gibran “CINTA itu adalah seekor burung jelita yang berharap untuk ditangkap, namun menolak untuk disakiti”. Sekali lagi, jika masih ada waktu kejarlah keinginanmu, jangan hiraukan diriku. Aku rela berpisah demi kamu. Lebih baik pernah menCINTAi dan sakit hati, daripada tidak sama sekali, kata Seneca. Akan tetapi, Thich Nhat Hanh memberi nasehat “CINTA yang hanya memilih bukanlah CINTA”. Jika itu yang terjadi dengan CINTA, percayalah! Satu per satu kan berlalu dari sisimu, termasuk sahabat-sahabat terbaik anda. Sahabat muda penCINTA Oasi di Vita, bagaimana jika anda yang berada di posisi ini?
Alexander Graham Bell menyadarkan kita dengan berkata: “Saat satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Tetapi sering kali kita menatap pintu yang tertutup itu begitu lama dan penuh sesal sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka untuk kita”. Namun, itu bukan berarti aku tidak lagi menCINTAinya lagi. Bahkan saat ini aku menCINTAinya lebih dari yang dia sendiri ketahui. Memang sakit hati sudah jelas, tetapi percayalah kepada SANG CINTA. Ada jalan lain yang lebih indah untukmu. Ituah dia yang telah kamu pilih. Ia lebih baik dariku. Aku yakin itu, sebab atas dasar itu jugalah kamu memilih dia. Sahabat muda, masih banyak orang yang ingin menjadi sahabat anda; temukanlah mereka! Memang sulit mencari sahabat yang mau bersahabat di zaman ini. Bagi para sahabat muda penCINTA Oasi di Vita yang telah menemukan sahabat terbaik, apakah kamu juga ingin melupakan atau meninggalkannya?
Minggu, 12 Agustus 2012
CINYA YANG DIPISAHKAN OLEH JARAK DAN WAKTU (Oleh: Erick M. Sila)
Malam itu, udara di luar terasa amat dingin hingga menembus jendela kamarku. Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.27 pagi. Aku tidak tahu, entah mengapa aku tidak bisa tidur malam itu. Aku juga tidak tahu awal semua itu. Saat itu hanyalah lolongan anjing yang terdengar dari kejauhan dan nyanyian merdu para jangkrik yang masih setia menemani aku. Akan tetapi, sedikit aku tahu tentang perasaanku saat itu.
JerryFal sayang, aku kangen sama kamu. Apakah kamu juga kangen samaku Jer? Aku bertanya dalam hatiku seakan kamu ada di sisiku saat itu. Aneh, bukan? Ya... aneh memang, tapi itulah cinta. Cinta itu ibarat kesehatan. Ketika seseorang merasakan sakit, barulah ia mengerti bahwa betapa berharganya kesehatan itu baginya. Demikian juga dengan cinta. Bila cinta itu ada di depan mata, orang tidak menjaganya dengan baik bahkan meremehkan dan mengabaikannya. Tetapi apabila cinta itu jauh dari pandangan mata – dipisahkan oleh jarak dan waktu – barulah ia mengerti akan cinta yang sesungguhnya. Di senilah terkadang orang menyesal, namun apa boleh dikata, penyesalan di kemudian hari hanyalah sebuah kesia-siaan. Memang, tapi itu bukanlah hal yang menimpa diriku saat ini. Akan tetapi tidak ‘ku sangkal kenyataan bahwa aku dan kamu juga dipisahkan oleh jarak dan waktu itu. Aku di sini dan kamu jauh di sana.
Jer, aku berharap suatu saat kita akan bertemu lagi. Jujur dari hati yang paling dalam, aku kangen bangat sama kamu. Kamu masih ingat ngga? Malam tanggal 15 Juli? Aku masih mengingatnya dengan jelas. Itu adalah kenangan dan juga sejarah bagiku, jadi tidak mungkin aku melupakannya begitu saja. Aku tidak akan membiarkan kenangan itu hilang bersama waktu. Aku masih mengingatnya dengan jelas sayang. Malam yang indah di mana kata itu terucap dari bibirku dan kamu pun menanggapinya dengan senang hati. Inilah awal kisah kita. Aku berharap kamu tidak lupa akan kenangan indah itu.
Hari berlalu, bulan pun berganti. Kisah cinta yang indah antara aku dan dirimu berjalan dengan baik. Hari-hari kita lalui dengan canda dan tawa. Itu semua menunjukkan gambaran dirimu yang unik dan luar biasa. Walaupun aku dan kamu dipisahkan oleh jarak dan waktu, kamu tidak lupa menanyakan kabarku. Demikian juga dengan aku. Aku selalu menanyakan kabarmu jika aku benar-benar tidak sibuk. Jika memang kadang aku lupa, itu bukan berarti tidak ada lagi hubungan batin di antara kita. Itu semua terjadi di luar batas kemampuanku sebagai manusia biasa. Walau pun demikian, aku mencoba 'tuk setia dan bertahan pada satu cinta. Jujur, tidak sesaat pun aku melupakanmu. Sayang, seandainya saat ini kamu ada di sampingku, aku akan mengatakannya sekali lagi bahwa AKU CINTA PADAMU. Ya, aku mencintai kamu karena kamu adalah kamu. Percaya ngga percaya, itulah ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam dan agar kamu tahu bahwa itulah kesungguhan rasa.
Terkadang aku meragukan kesetiaanmu di seberang sana. Aku bukanlah polisi yang mewajibkanmu melapor setiap saat. Tapi, aku adalah aku yang tidak sama dengan aku, aku yang lain. Aku adalah aku yang ‘ku akui dalam pengakuanku. Atas dasar itulah maka aku mencintaimu seperti apa adanya dirimu. Tetapi aku percaya sama kamu koq… kata orang “cinta yang dipisahkan oleh jarak dan waktu tidak akan bertahan lama”. Memang, tapi itu kata orang. Bagiku itu relatif. Semuanya tergantung dari pelaku cinta itu sendiri, tergantung orang yang menjalaninya. Jika saling percaya, semuanya itu tidak ada yang mustahil. Jika memang itu benar atau salah, biarlah waktu yang akan mejawabnya.
Aku berjanji pada diriku sendiri, jika memang suatu saat kita dihadapkan pada sebuah persimpangan jalan dan masing-masing harus mengikuti arah dan tujuah masing masing, aku ikhlas merelakanmu pergi. Akan tetapi, satu hal yang ingin kamu ketahui bahwa cintaku tidak akan pudar untukmu. Aku akan selalu ada untukmu walaupun tidak secara langsung aku ada di sampingmu, namun percayalah aku ada di sana. Walau dari tempat yang jauh, aku akan selalu ada untukmu.
Di sini juga aku ingin mengucapkan rasa syukur kepada Sang Cinta, karena Ia telah memberikan seorang sahabat terbaik seperti kamu. Kamu adalah seorang gadis rupawan, seorang yang unik yang pernah aku kenal dalam hidupku. Kamu sungguh luar biasa. Terima kasih ya sayang, terima kasih karena kamu mau hadir dan mewarnai dan mengisi hidupku. Bagiku, kamu adalah rembulan yang bersinar dalam kegelapan hatiku. Aku akan mejagamu selalu, kamu jangan pergi lagi ya! Karena aku sayang bangat sama kamu. Sayang…. Kisah ini tidak akan cukup untuk satu buku tulis saja. Walaupun demikian, aku mencoba mengisahkan dan menuliskannya kembali kepadamu, kepada dia dan kepada mereka yang mengharapkan dan mengidolakan cinta. Walaupun singkat namun penuh makna dan inspirasi. Aku berharap kamu senang bila membacanya. Aku juga berharap,jika kamu merasa sedih kamu bisa membacanya lagi. Aku yakin kisah ini akan menjadi obat mujarab dan inspirasi bagi kamu dan bagi semua orang yang mungkin juga mengalami atau memiliki kisah yang sama seperti kisah kita ini.
Sayang, sudah jam 02. 25 ne… aku akhiri ceritanya ya…? Tapi di akhir cerita ini, aku belum menemukan obat penawar rinduku padamu. Tadi aku berpikir dengan menuangkan segala perasaanku dalam tulisan ini, rasa kangenku padamu akan sedikit terobati. Tetapi, aku ngga tahu entah kenapa? Rasa kangenku padamu semakin kuat. Jujur, aku sangat mengharapkan pertemuan yang kedua. Apakah kamu juga merasakan sama seperti yang aku rasakan saat ini sayangku?
Bersama dengan ini, aku juga ingin menuangkan segala perasaanku padamu dalam untaian kata indah berikut ini: Ya... di malam yang sepi itu...
Aku terpaku dan terpana
Mengingatmu di seberang sana,
Mengingat suara lembutmu
Membangkitkan rasa ingin jumpa
Aku kangen sayang…
Aku merindukan kehadiranmu di sini
Apakah kamu juga kangen samaku di sana?
Aku tahu kamu jauh di sana
Namun kamu selalu dekat di hati
Untukmu ‘ku rangkai kata ini
Semoga kisah ini indah
Ya… selamanya
Selamanya bersamamu
Sering aku katakan padakmu
Bahwa tak sesaat pun aku melupakanmu
Kamu selalu ada di setiap hembusan nafasku
Namun ‘ku sadari saat ini
Saat ini kamu jauh dariku
Tapi, percayalah
Hatiku hanya untukmu
Memang, waktu itu kamu sempat pergi meninggalkanku karena tugas dan studimu. Aku tidak marah padamu karena aku tahu bahwa itu demi masa depan kamu sendiri. Tetapi supaya kamu ketahui bahwa saat itu aku sangat merindukanmu. Kini kamu telah kembali dan aku berharap kamu tidak pergi lagi, jauh dari hatiku. Aku berjanji akan memberikan tempat yang terindah di hatiku. Sayang… sekali lagi, aku sayang sama kamu. Ya… aku akan selalu menyayangimu dari tempat yang jauh walaupun kamu sendiri tidak menyadarinya. Sebagai akhir kisah ini, aku berharap persahabatan kita tetap abadi selamanya. Selama hayat dikandung badan. Semoga kamu tidak bosan dengan kalimat ini: Aku mencintaimu. Sampai kapan pun, sampai aku menutup mata... tetapi kamu juga harus ingat akan satu hal: jika kamu menyembunyikan sesuatu di balik semuanya ini, aku tidak akan segan-segan untuk pergi. aku tahu bahwa aku bukan siapa-siapa. walaupun demikian, aku adalah manusia yang bebas, aku bisa saja pergi jika aku tidak tahan lagi dengan keadaan seperti ini. jadi maafkan aku jika aku pergi menyanyikan laguku dan menyusun puisiku sendiri. Semua ini terjadi karena ulah kamu sendiri. siapa yang salah?
ya, karena Aku bukan seorang tahanan polisi yang wajib melapor setipa pagi. ya... kamu selalu mengadili aku atas nama cinta. jika itu terus terjadi, aku tidak akan bertahan. kamu menyebarkan panas terik dari hatimu setiap saat.. sungguh hatiku sudah layu dan hampir mati. aku mohon padamu, siramilah dengan air kasih agar aku bisah tumbuh lagi dan menjadi subur untuk meyebarkan aroma dan keindahan dari bunga cinta yang kamu sirami sendiri itu. sebab, apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai. jika kamu menabur badai, maka kamu juga akan menuai bencana; dan jika kamu menabur kasih kamu akan menuai kebahagiaan.
Langganan:
Postingan (Atom)









